Indahnya Sastra
Minggu, 15 Agustus 2010
UNGKAPAN JIWA
Ungkapan jiwa kepada jiwa berjalan
terjangkau hati tanpa kelelahan
kubisikan dengannya, maka terbanglah ia tanpa sayap
rintihannya membelah dada angkasa
pusat suaranya adalah dari tanah. akan tetapi,
bahsa langit menjadi lafadznya.
Jumat, 16 Juli 2010
ini dah blum yah
Ku tatap batas yang tergores membatasi lelangit dan lautan
Telingaku mencermati camar yang memekik dan mencecah kakinya
pada laut yang tak pernah luka
Dentuman debur menghantam karang
Dan sisanya membuih membasahi ujung jemariku yang terendam pasir
Ada titik permata jatuh pada pipiku
Lalu mentari memberinya warna warni pada bulatnya yang penuh
Sebelum jatuh dan terisap pasir-pasir pantai
Jeritan hatiku yang terasa memberat pada mulutku
Terlebih pada dadaku yang terdalam
Kusadari bahwa jalan menuju surga dan ridhoMu memang berat
Ya Allah… Betapa sulit menggapaiMu…
Cukupkah waktuku tuk menuju keribaanMu…
Selasa, 06 Juli 2010
Antara Sabar Dan Mengeluh
Pada zaman dahulu ada seorang yang bernama Abul Hassan yang pergi haji di Baitul Haram. Diwaktu tawaf tiba-tiba ia melihat seorang wanita yang bersinar dan berseri wajahnya.
"Demi Allah, belum pernah aku melihat wajah secantik dan secerah wanita itu,tidak lain kerana itu pasti kerana tidak pernah risau dan bersedih hati."
Tiba-tiba wanita itu mendengar ucapan Abul Hassan lalu ia bertanya, "Apakah katamu hai saudaraku ? Demi Allah aku tetap terbelenggu oleh perasaan dukacita dan luka hati kerana risau, dan seorang pun yang menyekutuinya aku dalam hal ini."
Abu Hassan bertanya, "Bagaimana hal yang merisaukanmu?"
Wanita itu menjawab, "Pada suatu hari ketika suamiku sedang menyembelih kambing korban, dan pada aku mempunyai dua orang anak yang sudah boleh bermain dan yang satu masih menyusu, dan ketika aku bangun untuk membuat makanan, tiba-tiba anakku yang agak besar berkata pada adiknya, "Hai adikku, sukakah aku tunjukkan padamu bagaimana ayah menyembelih kambing ?"
Jawab adiknya, "Baiklah kalau begitu ?"
Lalu disuruh adiknya baring dan disembelihkannya leher adiknya itu. Kemudian dia merasa ketakutan setelah melihat darah memancut keluar dan lari ke bukit yang mana di sana ia dimakan oleh serigala, lalu ayahnya pergi mencari anaknya itu sehingga mati kehausan dan ketika aku letakkan bayiku untuk keluar mencari suamiku, tiba-tiba bayiku merangkak menuju ke periuk yang berisi air panas, ditariknya periuk tersebut dan tumpahlah air panas terkena ke badannya habis melecur kulit badannya. Berita ini terdengar kepada anakku yang telah berkahwin dan tinggal di daerah lain, maka ia jatuh pengsan hingga sampai menuju ajalnya. Dan kini aku tinggal sebatang kara di antara mereka semua."
Lalu Abul Hassan bertanya, "Bagaimanakah kesabaranmu menghadapi semua musibah yang sangat hebat itu ?"
Wanita itu menjawab, "Tiada seorang pun yang dapat membezakan antara sabar dengan mengeluh melainkan ia menemukan di antara keduanya ada jalan yang berzeda. Adapun sabar dengan memperbaiki yang lahir, maka hal itu baik dan terpuji akibatnya. Dan adapun mengeluh, maka orangnya tidak mendapat ganti yakni sia-sia belaka."
Demikianlah cerita di atas, satu cerita yang dapat dijadikan tauladan di mana kesabaran sangat digalakkan oleh agama dan harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah dalam setiap terkena musibah dan dugaan dari Allah.
Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda dalam firman Allah dalam sebuah hadith Qudsi,:
" Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang Mukmin, jika Aku ambil kekasihnya dari ahli dunia kemudian ia sabar, melainkan syurga baginya."
Begitu juga mengeluh. Perbuatan ini sangat dikutuk oleh agama dan hukumnya haram. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda,: " Tiga macam daripada tanda kekafiran terhadap Allah, merobek baju, mengeluh dan menghina nasab orang."
Dan sabdanya pula, " Mengeluh itu termasuk kebiasaan Jahiliyyah, dan orang yang mengeluh, jika ia mati sebelum taubat, maka Allah akan memotongnya bagi pakaian dari wap api neraka." (Riwayat oleh Imam Majah)
Semoga kita dijadikan sebagai hamba Tuhan yang sabar dalam menghadapi segala musibah.
"Demi Allah, belum pernah aku melihat wajah secantik dan secerah wanita itu,tidak lain kerana itu pasti kerana tidak pernah risau dan bersedih hati."
Tiba-tiba wanita itu mendengar ucapan Abul Hassan lalu ia bertanya, "Apakah katamu hai saudaraku ? Demi Allah aku tetap terbelenggu oleh perasaan dukacita dan luka hati kerana risau, dan seorang pun yang menyekutuinya aku dalam hal ini."
Abu Hassan bertanya, "Bagaimana hal yang merisaukanmu?"
Wanita itu menjawab, "Pada suatu hari ketika suamiku sedang menyembelih kambing korban, dan pada aku mempunyai dua orang anak yang sudah boleh bermain dan yang satu masih menyusu, dan ketika aku bangun untuk membuat makanan, tiba-tiba anakku yang agak besar berkata pada adiknya, "Hai adikku, sukakah aku tunjukkan padamu bagaimana ayah menyembelih kambing ?"
Jawab adiknya, "Baiklah kalau begitu ?"
Lalu disuruh adiknya baring dan disembelihkannya leher adiknya itu. Kemudian dia merasa ketakutan setelah melihat darah memancut keluar dan lari ke bukit yang mana di sana ia dimakan oleh serigala, lalu ayahnya pergi mencari anaknya itu sehingga mati kehausan dan ketika aku letakkan bayiku untuk keluar mencari suamiku, tiba-tiba bayiku merangkak menuju ke periuk yang berisi air panas, ditariknya periuk tersebut dan tumpahlah air panas terkena ke badannya habis melecur kulit badannya. Berita ini terdengar kepada anakku yang telah berkahwin dan tinggal di daerah lain, maka ia jatuh pengsan hingga sampai menuju ajalnya. Dan kini aku tinggal sebatang kara di antara mereka semua."
Lalu Abul Hassan bertanya, "Bagaimanakah kesabaranmu menghadapi semua musibah yang sangat hebat itu ?"
Wanita itu menjawab, "Tiada seorang pun yang dapat membezakan antara sabar dengan mengeluh melainkan ia menemukan di antara keduanya ada jalan yang berzeda. Adapun sabar dengan memperbaiki yang lahir, maka hal itu baik dan terpuji akibatnya. Dan adapun mengeluh, maka orangnya tidak mendapat ganti yakni sia-sia belaka."
Demikianlah cerita di atas, satu cerita yang dapat dijadikan tauladan di mana kesabaran sangat digalakkan oleh agama dan harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah dalam setiap terkena musibah dan dugaan dari Allah.
Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda dalam firman Allah dalam sebuah hadith Qudsi,:
" Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang Mukmin, jika Aku ambil kekasihnya dari ahli dunia kemudian ia sabar, melainkan syurga baginya."
Begitu juga mengeluh. Perbuatan ini sangat dikutuk oleh agama dan hukumnya haram. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda,: " Tiga macam daripada tanda kekafiran terhadap Allah, merobek baju, mengeluh dan menghina nasab orang."
Dan sabdanya pula, " Mengeluh itu termasuk kebiasaan Jahiliyyah, dan orang yang mengeluh, jika ia mati sebelum taubat, maka Allah akan memotongnya bagi pakaian dari wap api neraka." (Riwayat oleh Imam Majah)
Semoga kita dijadikan sebagai hamba Tuhan yang sabar dalam menghadapi segala musibah.
Minggu, 20 Juni 2010
kETENTUAN
Andai hati ini boleh dilihat
Pasti ramai yang tidak sanggup melihat deritanya
Sarat dengan sengsara
Namun..
Terlindung disilau redha
Andai hati ini boleh berbicara
Pasti ia akan lontarkan cerita yang paling sedih
Bayangan suramnya jiwa
Namun..
Tersorok di tabir qonaah
Andai hati ini boleh berlagu
Pasti ia akan mengalunkan irama yang paling sendu
Luahan luhur dalam diri yang luluh
Namun..
Tersekat di tembok sabar
Andai hati ini boleh dilukis
Pasti ramai yang menitiskan air mata
Menyaksikan kesakitannya
Namun..
Terpasak di tunjang pasrah
Ya Robbi
Kami bukan para Anbiya
Yang imannya terus menebal
Kami juga bukan para Malaikat
Yang imannya tetap tak berganjak
Kami hamba-Mu yang dhaif
Yang imannya kadang-kala luas dan adakalanya sempit
Ya Rahman
Andai ini yang kau inginkan
Sebagai suratan perjalanan
Anugerahkan kami kejituan iman
Bentengi dengan kekuatan
Saluti diri dengan keikhlas Ya Rahim
Andai ini yang ditakdir
Pasrah terima ketentuan…
Sabtu, 17 April 2010
Bayangmu yang aku kejar
Senja selalu dihajar
kawan yang tiada tawar
hanya namamu sang Penawar
Ad' tersayang
Masih terasa suara itu
Paras wajah yang suci
Senyum terlantun lewat kata
Waktu,
Sampai kapan kau terus berjalan
Lama aku mengikutimu
menikmati angin bayangmu
Semu tapi nyata
Tapi,
menyita kata adalah sia-sia
membuat perahu butuh balok
dan harus dekat laut
Kiranya bisa
Ajari aku yang tak tahu
ajari aku yang bisu
Sebab
Rindu ini mulai pudar
Bintang itu mulai menyapa fajar,
Ad' salam dan doaku untukmu,
amiin.........
Jumat, 09 Oktober 2009
Anak sumedang Ulang Tahun

Hari ini tanggal 08 Oktober, ternyata ada yang lagi ulang tahun, Dia begitu membuatku penasaran. n kata dia, dia juga penasaran sama Q.
kami kenalan dah lama,
begitu dekat,
begitu akrab,
walau jarak memisahkan, walau waktu harus dilalui.
N
Hari ini adalah ulang tahun dia,
tentunya Q ingin ngasih sesuatu buat dia, tapi jarak memisahkan.
Q kasih dia pulsa, ya.... tapi itu dah biasa.
ingin Q kasih dia bintang malam, Q ga bisa ngambil dari langit.
Tapi Q punya hati,
eeeet, bukan berratio Q mau kasih Hati ini...
hatiku Cuma satu, Tapi bepasaanku beribu - ribu,
dan salah satu dari semua itu,
Q mau Untuknya, walau hanya lewat kata,
tapi semoga bermakna.
ni dia kata - kata itu:
Tak Cukup 1 Kata Tuk Ungkapkan …
Bahwa Begitu Berartinya Dirimu.
Hingga Diriku Ingin Selalu Mengingatkanmu
Dengan Untaian Kata – Kata Indahku …
Seiring Usiamu Yang Bertambah …
Ku Ingin Jiwamu Laksana Batu Karang,
Ia Selalu Tegar Menantang Angkuhnya Lautan Dunia …
Dan Seiring Berkurangnya Hidupmu …
Ku Ingin Kau Selalu Menjaga Lisan Dan Perbuatanmu,
Karena Bagiku Mereka Adalah Saksimu Di Akhir Nanti …
Dan Tak Lupa Kutitipkan Kepadamu
Tuk Selalu Bersujud KepadaNya
Karena Bagiku …
Ia Sangat Indah Tuk Dipuja …
kuharap, engkau belumlah petang merah jingga di detik menit
yang hanya duduk membatu menatap
dentang usia
engkau sejatinya adalah pelukis masa dan kisah
bagai senyum berpendar dengan beribu kunang kunang
hingga malam tak lagi gulita
selamat Ulang Tahun.
Rabu, 07 Oktober 2009
Langganan:
Postingan (Atom)





